18/05/2012

Fangirly Me (2)

I was wrong.

Setelah menyatakan bahwa saya hanya mild fangirl yang ngga sebegitu pedulinya sama gosip atau rumor tentang orang-orang yang saya idolakan, saya hampir bisa dengan jelas denger para fans lainnya bilang “you’re calling yourself a fan?” karena mungkin sebenarnya saya berada di tingkatan yang lebih rendah daripada itu.

Saya ngga segitunya ampe ngoleksi poster-poster, beli semua versi album atau photobook idola-idola saya. Ngga juga saya memenuhi dinding kamar saya dengan 20 foto cowok yang sama, difoto dari berbagai angle berbeda, seperti yang dilakukan oleh seorang fan yang sangat berdedikasi di bawah ini:

tempat penyembahan (?)


a top with TOP face on it.


semacam museum BIGBANG mini.

Nope.
Dinding kamar saya saat ini hanya punya dua poster: peta dunia dan Harry Potter. Itu juga muka Harry-nya cuma segede jempol karena saya suka estetika posternya, bukan kegantengan mukanya. 

Saya sangat kagum sama fan diatas yang begitu totalitas, tapi saya juga ngga berniat untuk pergi se-‘jauh’ dia. Ya, saya beli CD ori, tapi menurut saya hal itu adalah hal paling minimal yang semestinya dilakuin seseorang yang bilang bahwa dia bener-bener support sang idola. Selain, mungkin, nge-like video official di Youtube. Saya juga udah bertekad dan sangat berharap bisa nonton mereka langsung suatu hari di kehidupan ini. Di atas panggung, tentu saja, bukan di airport di bagian arrival.

Hanya sampai di situ.

Jadi sebenernya saya fans macam apa? Saya juga ngga tahu. Yang saya tahu, saya harus bisa menyalurkan penghargaan saya pada mereka dengan cara yang pantas. Mereka talenta mengagumkan, dan saya ingin tetap melihat mereka dengan cara demikian. Saya ngga ngikutin gosip karena sebisa mungkin saya menghindari diri menghujat atau menghakimi mereka apalagi kalau itu urusannya sama kehidupan pribadi yang sebenernya bukan urusan saya, meski saya juga berhak untuk kehilangan respek sama mereka kalo sampai ada tindakan mereka yang saya anggap mengecewakan saya.  

Ada pendapat lucu tentang cara saya mengagumi orang-orang, yang saya denger dari orang terdekat saya belum lama ini:

“Kamu tuh gampang ngefans sama orang, semua-semua dibilang keren!”

Yang saya bales dengan,

“Why wouldn’t I?”

Di dunia ini ngga ada hal yang ngga menarik, yang ada cuma orang yang ngga tertarik. Dan alasan saya bilang ‘keren’ ke berbagai hal yang saya anggap keren, adalah karena hal itu memang menarik buat saya.

At least visually, karena jujur saya makhluk yang cukup mementingkan visual.

Saya yakin pasti ngga cuma saya yang punya IPR (immediate positive response) semacam ini.

Skeptisme saya terhadap hal-hal yang baru atau yang belum saya tahu emang ngga pernah saya ekspresikan secara berlebihan. Saya paling takut jadi orang yang vonis “ngga suka” duluan hanya untuk dengan tanpa malunya bilang “keren banget” kemudian. Paling kalo emang interest saya kurang, saya bakal bilang “ngga kenal  karena ngga mungkin akan ada interest kalo saya ngga kenal. I avoid pre-assumptions.

Sementara saya rasa sah-sah aja kalau reaksi awal positif kemudian berubah jadi negatif karena toh, seengganya argumen itu punya basis. Especially when it happens  to me. I’m basically ruled by the Moon, and my feelings went on like the changing of weather. 

Kekaguman saya sama banyak hal sebenernya jadi salah satu alasan kenapa saya ngga masang foto-fotonya TOP atau Emma Watson di sepanjang dinding kamar saya. Saya emang ngga pernah bener-bener fanatik total sama satu atau dua hal aja.

Man, there are so many things to love on this whole planet.
I'm a proud earth-being.

10/05/2012

Fangirly Me

(Merayakan tahun keempat saya fangirling K-Pop!) Saya rasa emang udah saatnya saya buka mulut tentang hal ini disini.Saya mau cerita tentang bagaimana pertama kali saya kerasukan arwah fangirl serta dinamika perasaan saya terhadap K-Pop hingga saat ini.

The Fateful Day

Di suatu hari di awal bulan yang membosankan, saya sedang sangat bosan di depan laptop dengan koneksi internet cepat tanpa batas yang saya ngga tahu mau saya pake apa. Karena saya orangnya ngga suka rugi, saya pun mulai berselancar tanpa arah tujuan yang jelas. Angin membawa saya... dan sampailah saya pada halaman Youtube iklan BB Cream-nya SHINee yang ini .

The hell is this? Kata saya saat itu yang masih ngga ngerti kenapa ada iklan yang sebegitu cheesy sampai rasanya gigi saya linu. Tapi ada sesuatu di video itu yang bikin saya ngeklik tombol play berulang kali. Sesuatu itu adalah laki-laki muda luar biasa kece yang berdasarkan riset saya di Wikipedia bernama Choi Minho. Yes, you could say it was love at first sight.
They're sexy and you know it.
SHINee mengantarkan saya ke dunia entertainment Korea dimana artis-artisnya super serius soal musik mereka. Dari sana saya mulai kenal sama SNSD, dan saya kembali menemukan fakta yang menakjubkan: persiapan mereka selama bertahun-tahun sebelum debut. Fakta bahwa mereka semua bener-bener totalitas mewujudkan impian mereka just awe me.
run, devil devil run run.
Saya jadi semakin yakin bahwa they’re all worth the love. K Pop stars are more than just pretty faces and talent, they’re also hardworkers, and they’re devoted to their fans – you’d know this dari totalitas mereka di panggung yang jarang banget lip-syncing. Of course, fakta yang terakhir harusnya bukan sesuatu yang menakjubkan di dunia musik (duh, penyanyi ya nyanyi lah) yang sedihnya, makin jarang bisa kita temuin di negeri kita sendiri. 

And so it goes on and on, dan makin hari televisi makin jadi benda mati yang semakin membosankan karena terus menayangkan hal-hal yang kualitasnya jauh ketinggalan di banding video-video indie talents di Youtube atau Dailymotion. Meanwhile, kalian bisa bayangkan sendiri gimana kelanjutan perjalanan saya sebagai fangirl; download video ini itu, mp3 ini itu, squeeing over gazillions of pictures, even trying to remember their lyrics and choreography. Yes, I was a big otaku, and still pretty much so, meski tingkat fangirling saya ngga sampe mantengin site gossip tiap kali online ataupun bakal sampe bunuh diri kalo salah satu bias saya ternyata in a relationship (saya ngga bikin-bikin, ada kok fangirl macam ini).

Jadi, disini saya nyatakan diri saya sebagai mild fangirl yang bakal puking rainbows over music, videos and photos, but not more. Bahkan, saya bisa aja bener-bener ngga suka sama satu konsep yang bias saya bawa di video atau lagu baru mereka. Saya ngga cinta buta. 

Them Biases

Awalnya, saya bertekad bakal cuma supporting SHINee sampai liang kubur. Hal pertama yang jadi magnet buat diri saya adalah lagu dan koreografi mereka, dan saya ngga kaget waktu tau bahwa ternyata salah satu koreografernya adalah dancer yang emang udah lama banget saya suka: Rino Nakasone.

Saya amazed sama dancing skill Taemin. Saya juga suka banget sama suaranya Onew.  Minho has a pretty face but that’s it, setelah beberapa lama saya juga jadi ngga tahu apalagi dari diri dia yang bisa saya eksplor. Personality wise, I didn’t find them interesting... meski kalau mereka ampe bubar saya juga bakal sedih. Banget.

Jadi, menurut saya, ada hal lain selain musik dan talenta yang juga menentukan kualitas entertainer: personality. Dan karena mereka adalah entertainer, they should at least entertain people. Take Jo Kwon, or maybe the rest of 2AM members yang selain punya vocal worth of a million, tapi juga sering bikin orang jadi ikutan fun tiap kali liat mereka show. SNSD juga punya charm tersendiri yang loveable; low-profile, cheerful (rame lebih tepatnya, girls will be girls), dan apa adanya.

Another thing that I love about my biases are their humbleness. Ngga sok ngartis atau sok eksklusif. Their jokes are genuinely funny, bukan ga jelas atau ngeselin. Honestly, bahkan 2PM yang god-lookings aja saya pikir sedikit boring karena jokes dan tingkah mereka ngga lucu, no matter how hard they’re trying to. They’re just loud. No offense. Saya bahkan jauh lebih intens nontonin Running Man yang member-membernya ahjussi (om-om) tapi bener-bener bisa bikin saya ketawa sampai menitikkan air mata.

Dan lagi, ternyata both SHINee dan SNSD ngga nyiptain lagu-lagu mereka sendiri. Mungkin ada beberapa, tapi sisanya, kebanyakan adalah ciptaan orang lain. Which is okay, karena mereka udah ngebantu para pencipta lagu yang mungkin ngga bisa ngebawain lagu itu dengan baik, tapi saya ngerasa hal itu bikin mereka jadi kurang independen. Saya jadi takut ngebayangin apa yang akan terjadi kalo misalnya kontrak mereka habis. Mungkin masih ada yang bisa going solo, tapi gimana sama yang lainnya? Mungkin itu kenapa mereka jadi terkesan ngga punya pilihan selain kerja keras selama mereka masih terikat kontrak. Kalau ngga salah, member SNSD bahkan ada yang sempat pingsan waktu tur ke Eropa. Eksploitasi talenta... and that’s just too sad.  

Saya sempet lost faith, meski masih tetep support mereka (yang semakin kurus setiap harinya, hiks) dan saya juga sampe sekarang masih kuciwa sama SMEntertainment terutama sejak SNSD ngeluarin MV Time Machine dan SHINee dengan Sherlock-nya. Nuff said, they’re both a letdown.

Fantastic Babies

Di tengah semua itu, saya berkenalan dengan BIGBANG. Telat banget, I know. Mereka udah debut sejak saya SMP dan saya juga baru inget kalau saya sering liat MV mereka di tv beberapa tahun yang lalu.

Saya sempet hesitant waktu pertama kali 'kenal lagi' sama mereka. Mungkin karena penampilan mereka ngga extraterrestrial  belum kenal aja. I won't deny it, di setiap grup pasti ada lah yang jadi bait buat fangirls dan butuh waktu agak lama buat saya untuk akhirnya took that bait, ngga semudah waktu saya mengidolakan SHINee dulu. It wasn't so easy to love them.

And when I talk about bait, I meant these two people. Mereka adalah dua orang yang berpengaruh paling besar terhadap ketertarikan awal saya ke BIGBANG:
GD&TOP 's"Knock Out"
Video "Knock Out" juga susah banget ditonton dengan kedua mata berbinar atau mulut yang memuntahkan pelangi. Konsepnya emang bagus, tapi saya harus ngarti dulu mereka ngomongin apa (google search: "knock out lyrics eng translation") baru bisa bilang "awesome!" sepenuh hati.

Kemudian masuklah saya ke tahap orientasi. Di tahap ini, saya mulai nonton talkshow dimana BIGBANG jadi bintang tamu. Talkshow yang saya tonton pertama kali adalah Healing Camp yang intinya ngomongin insiden kecelakaan mobilnya Daesung yang korbannya meninggal dunia (sampe dia dibilang murderer) dan GD yang diperiksa polisi karena terbukti pernah make marijuana. Lewat Healing Camp dan beberapa talkshow lainnya, saya juga jadi tahu bahwa GD is a freakin music genius dan lebih penting dari itu, he's also very down to earth.

"Magnificent yet quiet. I don’t know if these two words are suitable to describe him, but it’s the first thought I had when I first saw G-dragon. Then I suddenly realized…Ah, perhaps he only uses music to speak to people."
- CeCi Magazine

And so that's how I get into BIGBANG. And I can honestly say that they’re just exactly what I need. World-renowned talents of Asia Pacific, though not perfectly god-looking like other boybands out there, they have Quality (yes, with capital Q). Musik mereka more than just okay, and their live performances aren’t like any other. Kalo boyband biasanya stick to the choreo no matter what (yang bikin jadi boring setelah berulangkali live di tv) BIGBANG ngelakuin apa aja yang mereka mau diatas panggung. Dari situ saya bisa nilai bahwa mereka truly enjoy music, sepenuh hati. Mungkin, karena lagu-lagu itu adalah ciptaan mereka sendiri. You can relate to their emotions, it’s almost like they’re conversing through their music. 

 
Nilai plus yang lain adalah mereka bener-bener entertaining. They made me laugh, and not just because they’re cute but actually really funny. Entah itu jokesnya Daesung atau cerewetnya Seungri, Taeyang bluntness, voice imitationsnya GD atau dance bingunya TOP.  


We all know they’ve been through a lot (terutama Daesung & GD) tapi mereka masih bisa ngebuktiin bahwa 5 years jinx yang bilang bahwa boyband ngga akan tahan lebih dari 5 tahun itu salah. As for now, BIGBANG is my ultimate bias. As I said, they’re exactly what I need; satisfying in both musicality and personality.  Proving that the 5 years jinx is wrong, they’re even stronger and bolder than ever. So yeah, they’ve won my best of respect.



The last time I heard they’re renewing their contract with YG Family for another 5 years. They’ve ended their promotion for this album, and I wish to see their comeback soon!

man, forget what I said earlier about non-extraterrestrial. 
They're all gorgeous in their own way. 
Like super gorgeous. 
So that was my essay on me being a fangirl.
Let me quote something to wrap this up.

"You aren't loving idols cause they're extraterrestrial, but it's
because you love them that they're becoming more and more extraterrestrial." 
- Thunderpaw 

20/02/2012

"Saya cuma mau jadi orang baik. Jadi orang baik itu jauuh lebih susah daripada jadi orang pintar. Karena orang baik itu harus punya sinergi antara otak dengan hati."
- Fitra (via d'Orange...)

it's how I'm programmed to function

Kenapa menulis?

Karena saya sangat pelupa. Kadang-kadang rasanya saya perlu bawa buku catatan kemana-mana. Blogging sekedar bentuk jaga-jaga kalau suatu hari saya terserang amnesia.(*)

Kenapa cinta melulu?

Karena Venus saya letaknya di Leo.
Belum menjawab pertanyaan ya? Bisa dipelajari sendiri disini.

(*) Termasuk pertanyaan-pertanyaan ini. Semua jawaban ini dari dan untuk diri sendiri.

Segalanya Ada Padamu

Beberapa hari yang lalu ketika saya mampir ke Filosofi Kopi, ada rasa yang terus menempel di hati; rasa Sepotong Kue Kuning. Saya benar-benar menikmati setiap lapisnya, sampai ke gigitan terakhir, karena saya mengerti. Lebih tepatnya, Sepotong Kue Kuning tadi yang memahami saya. Sepotong Kue Kuning tadi berhasil memberi perasaan saya sebuah nama.

Independensi.

Mungkin salah satu perasaan terbaik di dunia. Sering manusia kehilangannya ketika mencintai, kemudian dengan susah payah berusaha membangunnya kembali ketika cinta itu mengucap permisi. Seharusnya kita sadar, kesalahan terbesar adalah ketika kita memutuskan untuk mengikatkan diri terhadap apapun yang hidup. (Atau, mengikatkan diri pada apapun di dunia karena sebenarnya kita tidak perlu dilengkapi apa-apa, selama kita memiliki-Nya.)

(
Menjadi semakin jelas ketika saya membuka Supernova lagi.
Cinta mempunyai denyutnya sendiri, dan dengan demikian akan terus berevolusi.
Layaknya manusia cinta hidup dan dengan demikian tidak mempunyai sifat pasti.
Mengungkungnya malah akan membuatnya mati.
)

Segalanya ada padamu.
Cinta seharusnya membebaskan, bukan membelenggu.
(Supernova)

Tidak perlu dilengkapi apa-apa. Kita utuh sebagaimana mestinya.

Keutuhan diri itulah independensi.

Ketika kita mampu mencinta tanpa takut kehilangan cinta.

15/02/2012

Tanya

Orang-orang bertanya bagaimana bisa? Aku jawab jangan ragukan kemampuan Sang Pencipta. Aku sendiri sudah memahaminya, memaafkan mereka atas rasa sakit yang menurutku memang seharusnya sudah tidak ada disana.

Orang-orang bertanya kenapa? Aku jawab kenapa tidak?

Mungkin aku terlalu menyayangi mereka, aku tidak tahu. Adakah yang lebih melegakan dari bersatunya dua orang yang sangat kau sayang? Bahkan rasa sakitku tidak seharga dengan itu. Bahagiaku adalah urusanku, bukan mereka, meski aku selalu berusaha membawakan bahagia untuk keduanya.

Orang-orang bertanya apakah aku terluka. Aku jawab bahagia selalu datang dengan harga.
Orang-orang bertanya apakah aku menangis. Aku jawab tentu saja, tapi buat apa menangis lama-lama, kalau pilihan untuk ikut tersenyum selalu ada.

Orang-orang bertanya apakah aku akan pergi. Aku jawab aku akan masih tetap disini, kalau-kalau mereka ingat padaku dan ingin kembali seperti dulu. Melupakan rasa sakit kami, menertawakan lelucon kosmik ini. Jangan tanya lagi, jangan ungkit lagi yang pernah terjadi. Selama senyum itu masih mengembang di wajah-wajah kalian, duniaku akan senantiasa berseri.

Untuk dua orang yang sangat ku sayangi,
teruslah saling mencintai dengan berani.

100

Seratus hari.
Benda itu masih bertengger disana, membuat ruang tamu kami terlihat seperti foto hitam putih karena tidak ada satu benda lain pun yang dapat menyaingi kilauannya. Bahkan tidak juga benda-benda serupa, yang memang mulai kehilangan cahayanya dan tidak lagi menarik mata.

Dia tidak hanya baru. Dia sesuatu yang sudah lama ditunggu. Benda itu merupakan benda mati pertama di meja pajang kami yang berasosiasi langsung denganku, dan menjadi simbol kebanggan diri. Simbol kebanggan diri Mama dan Papa-ku, bukan aku. Bagiku, dia hanyalah tiket yang harus ku dapatkan demi untuk dapat masuk ke dalam wilayah pandang orangtuaku.

Sudah seratus hari aku mencari momen yang tepat, saat dimana aku bisa membuang benda itu secara sembunyi-sembunyi. Saat yang aku yakini akan dapat memerdekakanku dari rasa terhantui dan membawaku kembali ke diriku yang dulu lagi. Diriku yang selalu bangga dengan hanya menjadi diriku sendiri. Tapi niatku selalu pupus ketika membayangkan bagaimana reaksi kedua orangtuaku nanti. Tidak akan menyenangkan, yang pasti. Lagipula, separuh dari diriku sejujurnya masih ingin menikmati segala puji yang ditujukan untukku hingga hari ini. Sementara separuhnya lagi menggedor-gedor pintu hati, menuntut kejujuran untuk keluar dengan berani demi menyatukan kembali berbagai diriku yang kini saling benci.

Sering aku merasa benda-benda itulah anak kedua orangtuaku sesungguhnya. Benda-benda keemasan yang dari hari ke hari semakin memadati meja pajang kami, hingga akhirnya Mama memutuskan untuk mengganti meja itu dengan lemari. Lemari kayu lebar dengan pintu kaca sejernih air yang mengalir di kaki gunung. Lemari itulah gunung di rumahku. Spot wisata termegah di ruang tamu.

Jika ada orang datang bertamu, Papa akan dengan senang hati membawa mereka berwisata menyusuri benda-benda itu hingga ke puncaknya yang menjulang dan bertingkat tiga. Di atas sana, benda berumur seratus hari itu berada. Dan disana Papa akan memanggilku, memintaku menjelaskan pemandangan yang kulihat di puncak itu pada seluruh pengunjung ruang tamu. Mereka semua akan berdecak kagum memujiku sementara iri pada keberuntungan kedua orangtuaku. Dan aku dapat merasakan kejujuran dalam diriku semakin terdesak kedalam, hampir membunuh dirinya sendiri karena tidak tahan menghadapi tekanan.

“Berhentilah memikirkan keinginanmu sendiri.” Kata kakakku. Dia sudah berada dalam mode auto-pilot sejak lama, sejak Ia ditolak oleh sekolah dasar idamannya. Sejak saat itu, dengan ringan Ia menyerahkan kemudi hidupnya ke tangan Mama. “Toh, buktinya tidak ada dari kita yang hidup menderita karena mengikuti kehendak orangtua.” Kata-kata ‘restu Ibu’ bukan sekedar grafiti di truk pengangkut batu, tambahnya. “Opo kamu mau, jadi anak durhaka?”

Aku bergidik. Malin Kundang merupakan cerita horor pertama dalam hidupku, meski kini aku yakin bahwa cerita itu hanya karangan orangtua untuk menanamkan nilai-nilai hormat dan patuh dalam diri anak-anak jaman dulu. Lagipula, aku tidak berniat menelantarkan orangtuaku seperti si Malin kurang ajar itu. Aku hanya ingin Mama dan Papa dapat memandangku tanpa aku perlu mengenakan jubah emasku. Memandangku karena aku bahagia melakukan apa yang hatiku mau. Aku dengar mereka tersenyum saat tahu bahwa aku lahir sehat dan sempurna, apakah saat ini sudah terlalu sulit untuk merasa bahagia atas alasan sederhana?

“Kalau kamu nggak suka dengan cara Mama, Papa, ya nggak usah ditiru nanti kalo kamu membesarkan anak-anakmu.” Kakakku berbicara setengah berbisik agar tidak menganggu mimpi balita yang tengah terlelap dalam pelukannya. Balita lucu itu Ayu, buah hatinya dan Mas Danu. Mas Danu adalah jodoh yang dipilihkan Papa untuk kakakku. “Tapi ya sebaiknya kita berusaha mewujudkan keinginan beliau-beliau dulu, dek.”

Aku yang semenjak tadi memandangi kakakku dari atas tempat tidur kini berbalik memandangi tembok putih yang berhimpitan dengan kasur. Rasanya seperti melihat hal yang sama. Kakakku dan tembok ini sama lempengnya, sama putihnya. Aku iri pada kepolosannya. Sedikit banyak, aku memahami alasannya.

Kami tahu betul berapa banyak mimpi orangtua kami yang harus mati demi membangun keluarga ini. Semua berawal dari Mama yang mengandung kakakku di luar nikah, padahal saat itu Papa masih duduk di bangku kuliah. Gelar yang cukup prestisius itu pun terpaksa dilepasnya, karena Kakekku bersikeras bahwa calon menantunya harus sudah mampu berpenghasilan dan punya rumah sendiri. Alhasil dinikahilah Mama meski bermodal hutang dimana-mana.

Mama yang baru lulus SMA pun batal melanjutkan sekolahnya ke Amerika. Mama yang saat itu masih sangat belia, dan Papa yang telah menyusun banyak agenda hingga masa tua tiba, merelakan mimpi-mimpi mereka tumbang satu persatu, demi memulai kehidupan tak terencana bersama di sebuah rumah kecil di Jogja. Kedua Nenek dan Kakekku tidak memberikan modal apapun selain mas kawin dan restu. Selalu menakjubkan apabila kami menengok ke belakang, mengetahui bagaimana mereka berjuang, sampai kami dapat hidup dengan leluasa seperti sekarang.

Meski pilihan untuk menggugurkan kakakku dan kembali menjalani hidup seolah tidak pernah terjadi apa-apa selalu ada, mereka tidak melakukannya. Meski pilihan untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka tidak pernah pergi kemana-mana, mereka mengacuhkannya. Bisa saja mereka lari, sehingga aku tidak akan pernah lahir ke dunia ini... tapi bukan itu yang terjadi. Bisa saja mereka membenci kami karena tidak menginginkan kami, tapi sebaliknya mereka memamerkan kami seolah kami perhiasan yang tak ternilai harganya, seolah kami adalah mimpi mereka yang mewujud nyata.
Kenyataan itu menghantamku, membuatku malu karena berpikir aku telah membayar mahal untuk sebuah pengorbanan yang mungkin hanya seper sejuta dari semua yang telah mereka korbankan untukku dan kakakku..

“Selama kamu masih bisa, lakukan saja dulu. Lakukan untuk mereka yang telah menukarkan kesempatan untuk melakukannya dengan kesempatan untuk menjadi orangtua kita.” Kakakku berujar lembut, membawaku kembali menatap kedua matanya. “Setelah itu, kamu bebas jadi apapun yang kamu mau.” Ia mengelus kepalaku dengan satu tangannya masih mendekap Ayu, tersenyum, lalu mengucapkan selamat tidur.

Seratus hari yang lalu adalah kali pertama aku berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari Mama dan Papa. Ratusan hari-hari sebelumnya, aku tidak pernah mau bersaing dengan kakakku yang selalu berusaha membuat keduanya bangga. Aku hanya ingin dicintai apa adanya, melakukan apa yang aku suka meski tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Malam ini, rasanya aku sedikit lebih mengerti.
Kaki-kaki ini adalah perpanjangan dari kaki kedua orangtua kami, yang akan melangkah ke tempat-tempat yang belum sempat mereka kunjungi. Mata kami adalah mata-mata ekstra yang akan melihat hal-hal yang belum sempat dilihat oleh kedua mata mereka. Mimpi-mimpi mereka, mulai saat ini, akan menjadi mimpi-mimpiku juga, yang akan selalu coba ku wujudkan... mungkin sampai aku mati.

Dan di sela-sela itu, aku masih bebas melakukan apa saja yang hatiku mau.

22/01/2012

diary Annisa(*)

saya bersyukur pada Tuhan karena sudah dipertemukan dengan kamu.

meski itu mungkin sama artinya dengan berterimakasih pada orangtua saya, yang tidak tahu bahwa uang makan dari mereka saya habiskan untuk berbelanja.

sesalah apapun hal ini mungkin di mata mereka. sedurhaka apapun saya di mata-Nya.

seaneh apapun kalimat saya selanjutnya mungkin terasa:

saya semakin sayang Dia, karena saya telah diberi kesempatan
untuk mengisi hidup bersama kamu, cin(t)a.


(*) heroine of the movie cin(t)a.

19/01/2012

Hati Adalah Air

Kalau hati adalah air, ada saatnya dimana air pun berpotensi melukai, maka ia harus dibendung, demi melindungi. Karena kita tidak hidup untuk saling menyakiti. Kita tidak hidup hanya untuk diri sendiri.

Kalau hati adalah air, kemanapun Ia terjun dan mengalir, akan ada saatnya dimana Ia pun harus memenuhi panggilan siklusnya dan bermuara ke laut lepas, bergabung dengan kehidupan yang lebih luas, arus yang lebih deras. Memberi kesempatan pada banyak hati baru untuk lahir dan mengalir.

Disadari atau tidak, ada standard operational procedure dalam kehidupan ini yang menanti untuk kita penuhi.

Dipenuhi atau tidak, itu adalah pilihan yang harus kita buat sendiri.

15/01/2012

Peluk

Sore kemarin sudah pasti bakal masuk ke dalam daftar Top 10 Golden Moments Dewiana Utami, karena akhirnya saya berhasil bertemu secara langsung dengan 'Dewi' lain yang sangat saya kagumi: Dewi "Dee" Lestari.


Bagi pembaca setia karya-karyanya, eksistensi Dee lebih dari sekedar inspirasi. Ngga sedikit orang bilang hidup mereka berubah setelah membaca tulisan-tulisan Dee. Yang sebenarnya terjadi, menurut saya pribadi, adalah karena mata mereka akhirnya terbuka pada kebenaran yang selama ini nampak tersembunyi. Dee menuliskan kebenaran, meski seringkali bertentangan dengan apa yang dianggap benar oleh sebagian besar orang.

Pertama kali saya kenal Dee adalah melalui Supernova "Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh". Kalau ngga salah, waktu itu saya masih kelas sepuluh. Masa-masa dimana saya sedang kehilangan selera membaca. Padahal anehnya, sampai dengan lulus SMP, ngga bisa disangkal lagi saya adalah kutu buku yang paling kutu, yang bener-bener bisa makan buku tiga kali sehari layaknya makan nasi. Seringnya sih fiksi, tapi ngga jarang juga buku-buku know-hows, psikologi, sampe yang berbau Islami. Namun entah kenapa ketertarikan itu kemudian mengalami degradasi.

Entah muak atau bosan dengan tema yang selalu itu-itu saja, alih-alih setia membaca saya malah mulai selingkuh ke yang namanya desain lah, ekskul lah, pacar lah (cieh). Nampaknya saat itu, saya terlalu terlena menjalani lika-liku kehidupan remaja :) Jadi, waktu berkenalan dengan dunia Dee, sebenarnya saya sedang dalam hubungan yang tidak begitu baik dengan literatur.

Tapi Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh berhasil membuat saya kehilangan kendali. Hari itu adalah hari dimana cinta saya bersemi kembali. Rasanya sudah lama saya ngga membaca buku yang membuat saya deg-degan atau bahkan frustrasi. Rasanya sudah lama saya kehilangan minat untuk menghabiskan sebuah buku cepat-cepat, memaknainya lambat-lambat, dan disanalah saya, belum mandi dan masih memakai seragam OSIS SMA, melahap habis Supernova dari sejak baru sampai di rumah sampai tengah malam tiba.

Saya memang belum membaca semua karya Dee, tapi saya percaya sampai kapanpun yang pertama akan selalu menjadi yang paling istimewa. Bagi saya, itu adalah Supernova yang pertama.


Saya mengagumi Dee, karena dia selalu menulis dengan jujur dan berani. Salah satu tulisan Dee yang belum lama ini saya baca, yang juga sangat saya sukai, adalah cerita pendek berjudul Peluk.

Peluk adalah salah satu dari 11 kisah dalam buku Rectoverso karya Dee. Temanya senada dengan pelajaran hidup saya belum lama ini; tentang perubahan-perubahan dalam hidup. Dalam cerita ini, Dee berkisah tentang pasangan yang berhadapan dengan perubahan dan perpisahan. Ngga cuma ceritanya aja yang saya suka, tapi juga soundtracknya. Bagi yang belum pernah 'mendengar fiksinya dan membaca musiknya' saya ngga sarankan untuk menunda terlalu lama.

Berikut ini beberapa paragraf dalam ceritanya yang sangat saya suka:

Aku tidak tahu kenapa dua manusia yang saling sayang
harus kembali berjalan sendiri-sendiri.


Namun kurasa kamu tahu, seperti hatiku pun tahu. Jika malam ini kita memutuskan untuk terus bersama, itu karena kita tidak tahu bagaimana menangani kesendirian. Aku tidak ingin bersamamu cuma karena enggan sendiri. Kamu tidak layak untuk itu. Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.

Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu? Aku pun tak tahu, barangkali kita berdua, tanpa kita sadari.
Barangkali hidup itu sendiri, sehingga sia-sia menyalahkan siapa-siapa.

"Enam tahun. Kita akan buang enam tahun begitu saja?" Retorikal dan getir, kamu bertanya.

Kamu bukan tisu sekali pakai. Kita tidak mungkin membuang apapun jika kita percaya hati bukan diperuntukkan untuk menyimpan. Otakku merekam dan menyimpan kamu, kita, dan enam tahun ini. Hati tidak pernah menyimpan apa-apa. Ia menyalurkan segalanya.
Mengalir, hanya mengalir.

*

Seringkali, saya ngga ngerti kenapa dua orang yang sebenarnya masih saling peduli akhirnya memutuskan untuk keluar dari kehidupan masing-masing dan kembali berjalan sendiri-sendiri. Saya tau, alasannya memang bervariasi, dan saya ngerti kadang penyebabnya adalah harga mati yang tidak mungkin ditawar lagi meski keduanya menghendaki.

Simpati saya pada mereka yang tidak lagi bisa bersama karena kondisi. Yang saya ngga berhasil mengerti, adalah mereka yang dengan mudahnya membuang perasaan ke tempat sampah seolah perasaan itu bisa menginfeksi. Seolah tidak ada yang pernah terjadi. Yang saya lebih ngga ngerti adalah mereka yang memutuskan untuk pergi sendiri, tanpa mempedulikan perasaan pasangannya yang selama ini dia bilang sebagai yang paling ia sayangi. Sehingga namanya bukan lagi berpisah tapi meninggalkan. Kalau hal seperti itu terjadi, saya pikir dapat disimpulkan bahwa mereka yang pergi adalah mereka yang masih saja hanya mementingkan perasaannya sendiri.

Padahal menurut saya perasaan sayang yang tulus pada orang lain itu berharga sekali. Bukankah perasaan se-grand itu ngga datang tiap hari? Bayangkan, dari sekian banyak orang yang datang dalam kehidupan kita, hati kita memilih mereka. Hanya seseorang yang itu saja.

Saya juga setuju kalau ada yang bilang bahwa hal-hal yang berharga di dunia ini tidak akan pernah mudah. Like what Shakespeare said, "the course of a true love never did run smooth." Mereka yang mudah menyerah mungkin ngga punya pengetahuan tentang keberadaan hukum ini.

Kita seharusnya ngga pernah lupa bahwa di dunia ini ngga ada orang yang bener-bener cocok. Logikanya, kita dan saudara kandung kita aja seringkali berantem sampe rasanya ngga pengen saling kenal lagi, gimana sama pasangan kita yang berasal dari latar belakang yang bener-bener beda? Kalau kita terus saja mencari yang lebih baik, maka perjalanan kita tidak akan pernah berhenti. Kehidupan kita akan terus berada di tingkatan yang sama, ibaratnya ngga naik level lagi, karena kita masih terus berputar-putar di level yang itu-itu saja.

Mungkin, memang intensitas perasaannya yang udah ngga sama lagi, sudah ngga mutual lagi, sehingga percuma saja dipertahankan karena hanya akan membuat keduanya mati pelan-pelan. Mungkin kebahagiaan yang didapat saat bersama-sama ngga lagi seharga dengan rasa sakitnya. Mungkin kebersamaan tidak lagi memuliakan keduanya.

Mungkin semua hal memang punya tanggal kadaluarsa, dan tanggal itu tidak pernah sama antara satu orang dengan seorang yang lainnya. Sehingga sesuatu yang dinilai sangat berharga bagi seseorang, bagi orang lain sudah jadi tidak ada artinya.

Pada akhirnya kesimpulan saya masih sama. Kita semua memang hidup tanpa garansi, dan perubahan akan terus terjadi selama hidup itu sendiri. Happily ever after adalah sesuatu yang harus terus dirajut sendiri.

Tidak akan mudah, dan pasti bukan untuk yang mudah menyerah.